"Sajak indah di sepeninggal sang guru bangsa"
Saya ingin menuliskan, sebuah puisi indah yang sangat mengharu, diciptakan dengan uraian air mata, mengenang bahwa sosok yang digambarkan dalam puisi itu sungguh sangat berarti bagi hidupnya. Seluruh penjuru dunia sangat kelihangan sosoknya, kehilagan penerang rohani,. Bagai sang pecinta kehilangan kekasihnya.
Sang penulis penyair pasca sepeninggal sang guru adalah gus haidar hafeez, beliau adalah pengasuh pondok pesantren
Darul ulum karangpandan rejoso pasuruan jawa timur sekaligus menjadi wakil ketua lesbumi NU pasuruan.
Berikut puisi indah yang sangat mengharu biru untuk sang guru tercinta. Yang berjudul
"Pantas pagi ini ka'bah diguyur Hujan"
Hujan
Kau kabarkan padaku
Subuh ini telah berpulang
Kiai maimun zubair
Labbaik Allhumma labbaik
Mbah maimun
Engkau hadir
Memenuhi panggilan tuhan
Bukan hanya jiwa tapi ragamu juga hadir
Penuhi panggilan tuhan
Demi labaik Allah
Mbah mun
Bukan hanya santri
Dihadapan kabah
Langit pun menangis
Hujan menguyur
Kota haram
Haram bagi siapa saja
Yang tidak menyaksikan engkau husnul khotimah
Hujan membasahi jamaah haji
Titip kabar bahwa langit pun menangis
Atas wafatmu mbah Kiai maimun zubair.
Sungguh, saya sangat bergetar menuliskan kembali puisi gus haidar ini yang saya cuplik dari @alif.id.
Keinginan untuk ngalap barokah di ndalem beliau pernah tersirat. Ya Allah beruntung sekali orang-orang yang bisa berkhidmah dengan beliau. Kalam indah, nasihat sejuk, yang selalu diharapkan oleh orang orang-orang yang mencintai beliau.
Akui kami sebagai santri MU Kiai maimun zubair.
Saya ingin menuliskan, sebuah puisi indah yang sangat mengharu, diciptakan dengan uraian air mata, mengenang bahwa sosok yang digambarkan dalam puisi itu sungguh sangat berarti bagi hidupnya. Seluruh penjuru dunia sangat kelihangan sosoknya, kehilagan penerang rohani,. Bagai sang pecinta kehilangan kekasihnya.
Sang penulis penyair pasca sepeninggal sang guru adalah gus haidar hafeez, beliau adalah pengasuh pondok pesantren
Darul ulum karangpandan rejoso pasuruan jawa timur sekaligus menjadi wakil ketua lesbumi NU pasuruan.
Berikut puisi indah yang sangat mengharu biru untuk sang guru tercinta. Yang berjudul
"Pantas pagi ini ka'bah diguyur Hujan"
Hujan
Kau kabarkan padaku
Subuh ini telah berpulang
Kiai maimun zubair
Labbaik Allhumma labbaik
Mbah maimun
Engkau hadir
Memenuhi panggilan tuhan
Bukan hanya jiwa tapi ragamu juga hadir
Penuhi panggilan tuhan
Demi labaik Allah
Mbah mun
Bukan hanya santri
Dihadapan kabah
Langit pun menangis
Hujan menguyur
Kota haram
Haram bagi siapa saja
Yang tidak menyaksikan engkau husnul khotimah
Hujan membasahi jamaah haji
Titip kabar bahwa langit pun menangis
Atas wafatmu mbah Kiai maimun zubair.
Sungguh, saya sangat bergetar menuliskan kembali puisi gus haidar ini yang saya cuplik dari @alif.id.
Keinginan untuk ngalap barokah di ndalem beliau pernah tersirat. Ya Allah beruntung sekali orang-orang yang bisa berkhidmah dengan beliau. Kalam indah, nasihat sejuk, yang selalu diharapkan oleh orang orang-orang yang mencintai beliau.
Akui kami sebagai santri MU Kiai maimun zubair.
Lanjutkan.. ustadzah
BalasHapusEnggeh ustad 😂😂
Hapus